TRIK MENJADI PRIA ROMANTIS

Satu hal yang seringkali dipersoalkan oleh wanita adalah sifat egois laki-laki. Tak sedikit perilaku laki-laki yang tidak berkenan dan membuat wanita dirundung kehilangan gairah. Di antaranya masalah romantisme yang merupakan salah satu kebutuhan mendasar wanita. Yang bila tidak terpenuhi, bersiap-siaplah wahai kaum pria, besar kemungkinan wanita pasangan Anda memasang spanduk bertuliskan: Dicari: Pria Romantis!

Entah mungkin disibukkan dengan segala macam aktivitas kerja, romantisme sebagian kaum pria yang selama ini mampu diberikan, mulai memudar bahkan tersingkir. Padahal, untuk mempertahankan perasaan cinta dan membangkitkan gelora asmara, wanita butuh sikap romantis pria pasangannya. Begitulah menurut Ririn, 28 tahun, marketing manager di sebuah majalah papan atas di Jakarta yang sedang menghadapi suami ‘lesu’ romantis.

“Laki gue nyebelin banget,” cetusnya entah untuk yang keberapa kali mengungkapkan uneg-unegnya di tengah beberapa teman wanita. “Sudah kurang romantis. Enggak seperti waktu pacaran dulu. Jauh beda banget. Gue jadi ngebayangin cowok lain yang romantis nih,” tuturnya menggebu yang ditanggapi tawa riuh teman-temannya.

Seorang kawannya, Miranda, 25 tahun, lantas menyambar, “Laki gue kayaknya lebih parah deh. Enggak romantis dari sejak pacaran. Padahal, gue udah ngajarin, lho. Capek juga kasih tahu cara romantis. Mun kin memang pada dasarnya, dia tipikal enggak romantis. Tapi, lain-lainnya dia nice banget.”

Romantisme, demikin menurut psikolog Zahrasari Lukita Dewi, Psi., MS., sebenarnya tidaklah monopoli kebutuhan perempuan. Artinya, dari sudut pandang psikologi, romantisme biasanya dihubungkan dengan perasaan emosi cinta, emosi yang menyenangkan dan yang membahagiakan, berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Tapi, konotasi romantisme lantas selalu dihubungan dengan pria dan wanita. Hal ini berkaitan dengan kisah klasik, bahwa laki-laki harus romantis dalam mendekati wanita. Karena wanita butuh pria romantis. Tapi, kalau dilihat lebih mendalam, keduanya memerlukan romantisme.

Tapi bila kemudian romantisme lebih dibutuhkan perempuan, bukan sebab perbedaan kebutuhan romantisme, tapi karena wanita lebih bisa mengekspresikannya.

“Wanita sangat ekspresif mengungkapkan apa yang dirasakan. Secara umum, wanita lebih bisa mengekspresikan, mengungkapkan, mengomunikasikan apa yang dirasakan. Di sesama komunitas perempuan, mengungkapkan hal-hal seperti itu tidak tabu. Bahkan hat-hal buruk tentang suami yang mulai dingin pun dibicarakan. Ini merupakan share antarwanita. Sementara laki-laki yang notabene katanya lebih rasional, seperti ada rambu-rambu ke-tabu-an membicarakan romantisme.”

Padahal, jelas Aya, panggilan akrab dosen tetap di Fakultas Psikilogi, Universitas Atmajaya Jakarta ini, pria pun membutuhkannya. Malah, pihak wanita sebelum menuntut sikap romantisme pria pasangannya, sebaiknya mendahului berlaku romantis.

Biasanya pula, romantis itu banyak digunakan untuk menggambarkan perasaan antara pria dan wanita yang dalam konteks bukan pasangan menikah. Pasalnya, sebagai pasangan menikah, biasanya hubungan sudah tidak ditekankan karena sudah adanya kebutuhan dan banyak hal lain yang lebih penting. Sehingga, masalah romantisme sudah tidak menjadi isu utama. Padahal, sejatinya tidaklah demikian.

“Jadi sebenarnya, bukan romantisme pasangan suami-istri yang menurun atau berkurang. Emosinya sendiri masih tetap ada, hanya saja dalam bentuk lain, misalnya, kasih sayang lebih mendalam. Dalam hubungan suami-istri, romantisme seringkali tidak muncul, karena perasaan yang dihayati sudah bukan diarahkan pada keterikatan atau menjalin hubungan, dan sudah bermunculan kebutuhan lain. Tidak sekadar bahwa salah seorang pasangan butuh disayang, saling menyayangi dan menikahkan diri dalam lembaga perkawinan. Tapi setelah dalam perkawinan, sudah lebih pada ingin saling melindungi, teman bicara apa saja. Ini lebih complicated,” lanjut psikilog kelahiran 13 januari 1972 ini.

Namun, Aya tidak menyangkal, bahwa berkurangnya romantisme di antara pasangan, memudahkan masuknya orang ketiga dalam hubungan suami istri. Perselingkuhan sangat memungkinkan mendera. Hal ini akibat di rumah tidak mendapatkan romantisme. Karena itu, yang perlu dijaga adalah warna emosi romantis. Hanya saja yang sering terlupakan oleh pasangan suami-istri adalah peran masing-masing individu, bahwa mereka tidak hanya berperan sebagai pasangan, tapi juga sebagai laki-laki clan perempuan.

Jagalah romantisme dengan langkah berikut:

1. Jangan melewatkan waktu untuk memberikan perhatian pada hal-hal yang kecil, seperti menanyakan sudah makan siang atau mengingatkan agar meminum obat dan vitamin.

2. Bagi kaum wanita, sentuhan dan belaian tulus dari pria yang dicintai, akan sangat terpatri dalam dada, tertanam dalam ingatan, dan menggelorakan asmara.

3. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, pikiran maupun tindakan keseharian, hendaknya dikomunikasikan. Tanpa mengomunikasikan, tak akan pernah tahu apa yang telah dan akan dilakukan serta apa yang dibutuhkan.

4. Lebih dulu mengevaluasi hubungan yang serba rutin selama ini, hingga menjadi dingin-dinggin saja. Dari sana, dicarikan solusi bersama.

5. Fokus pada kebutuhan pasangan dan bukan diri melulu. Dengan fokus pada kebutuhan pasangan, maka diri tak cuma menuntut. Tapi ada gerakan dalam diri untuk memberi. Dari sanatah awal berlaku romantis

6. Menyadari peranan lebih sekadar sebagai suami dan istri, sebagai ibu dan ayah, tapi sebagai pria dan wanita dewasa, yang membutuhkan romantisme di setiap waktu.

7. semasa pacaran dan awal-awal tahun perkawinan terbiasa mengungkap cinta lewat sms, atau melakukan kejutan dengan memberi bunga, atau kado khusus, maka kegiatan tersebut dapat dilakukan kembali.

8. Jangan beri kejutan yang tak biasa dilakukan, bila tak ingin mendulang bencana. Sesuatu ha[ yang tidak biasa dikerjakan, justru seringkali menimbulkan salah persepsi dan kecurigaan.

9. Luangkan waktu berdua. Peran wanita kini yang multi tugas clan tidak lepas dari pekerjaan rumah tangga. Entah diisi dengan nonton bareng, makan malam, atau janjian di tuar rumah. Bulan madu kedua, bisa pula menjadi pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: